Beranda
Kisah
Cerpen
Pendidikan
Puisi
Cerita Lucu
Inspirasi
Cerita Rakyat
Teknologi
Wisata
Nyanyian Unisi
-== Jualan ==-
Foto Ancur
Kontak
Cicak vs Buaya?
 
   
Beranda
Advertisement


Kapan Kita Boleh Menyerah?
Ditulis Oleh D. Kadarusman   
Wednesday, 30 September 2009
Habis gelap, terbitlah terang,” demikian Ibu Kartini memesankan. Setiap situasi sulit, pasti ada akhirnya. Masalahnya, kita sering tidak tahu kapan kesulitan itu akan berakhir sehingga tidak mudah untuk memutuskan apakah harus menyerah dan berhenti sampai disini saja, ataukah kita mesti bertahan ’sebentar’ lagi? Jika berhenti, boleh jadi kita kehilangan momentum karena bisa saja sebenarnya kita sudah berada pada ’detik-detik’ menjelang akhir itu. Tapi, kalau harus terus, sampai kapan?
Selengkapnya...
 
Apa Yang Akan Terjadi Setelah Ini?
Ditulis Oleh D. Kadarusman   
Wednesday, 16 September 2009
Ada kalanya kita berharap untuk bisa mengetahui apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Namun, bahkan seorang peramal terbaikpun tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok. Yang bisa kita ketahui hanyalah sederetan kemungkinan. Alasan mengapa semua itu disebut kemungkinan adalah karena hal itu mungkin terjadi, mungkin juga tidak.
 
Ada sebuah kisah tentang seorang karyawan yang bekerja lembur hingga larut malam dikantornya. Tiba-tiba, ada pesan aneh dilayar monitor komputernya. Sebelum mengklik pesan itu, sempat terlintas dipikirannya;"jangan-jangan pesan aneh ini mengandung virus...." Tetapi, tampilan yang menarik mengalahkan kewaspadaannya. "Ah, mumpung tidak ada orang lain dikantor," pikirnya. Tetapi, begitu dia meng-klik pop-up itu, serta merta saja isi komputernya diacak-acak virus. Dan karena komputernya terhubung ke jaringan kantor, maka seluruh sistem dikantornya terinfeksi. Setelah semua kekacauan itu, dilayar komputernya muncul sebuah gambar mahluk bertanduk merah dan berekor tombak, yang berkata; "Now, explain this to your boss!!!"
Selengkapnya...
 
Apakah Nilai Diri Anda Lebih Tinggi Dari Uang Seribu Rupiah?
Ditulis Oleh D. Kadarusman   
Tuesday, 08 September 2009
Mohon maaf jika judul artikel ini agak mengesalkan anda. Sebab, kita semua tahu bahwa nilai anda jauh lebih tinggi dari sekedar nilai uang seribu rupiah. Tetapi, percayakah anda kalau kita semua perlu sesekali menguji kebenaran premis bahwa; ’nilai kita lebih tinggi dari uang seribu rupiah’ itu? Agak janggal memang. Tapi, sebentar lagi anda akan faham maksud saya. Pertama-tama, ingatlah kembali bahwa nilai selembar uang sangat ditentukan oleh jumlah angka nol yang dimilikinya. Lalu, berhentilah sejenak dari membaca tulisan ini. Dan renungkanlah ini; ”jika nilai uang ditentukan oleh jumlah angka ’0’ yang dimilikinya, maka apa yang menentukan nilai diri kita sebagai manusia?”
 
Saya bisa mengatakan bahwa uang seribuan itu mewakili kualitas standar yang dipersyaratkan bagi diri kita, supaya perusahaan menganggap kita masih layak untuk dipekerjakan. Perhatikan, uang seribuan memiliki  3 buah angka ’0’ (nol), dimana setiap angka nol itu mewakili satu kualitas penting yang harus dimiliki oleh setiap pekerja.
Selengkapnya...
 
Sang arsitek dan penari ulung
Ditulis Oleh Harun Yahya   
Friday, 07 August 2009
Di antara makhluk paling memukau di alam ini adalah lebah madu, makhluk mungil yang menghidangkan kita sebuah minuman yang sempurna, yaitu madu yang dihasilkannya.

Lebih Hebat dari Ahli Matematika

Lebah madu hidup sebagai koloni dalam sarang yang mereka bangun dengan sangat teliti. Dalam tiap sarang terdapat ribuan kantung berbentuk heksagonal atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan madu. Tapi, pernahkah kita berpikir, mengapa mereka membuat kantung-kantung dengan bentuk heksagonal?

Para ahli matematika mencari jawaban atas pertanyaan ini, dan setelah melakukan perhitungan yang panjang dihasilkanlah jawaban yang menarik! Cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat dinding berbentuk heksagonal.
Selengkapnya...
 
Kontras Antara ?Tampak Luar? Dan ?Daleman? Seseorang
Ditulis Oleh D Kadarusman   
Thursday, 30 July 2009
Sudah menjadi kelaziman jika kita terpukau oleh ?tampilan luar? segala sesuatu. Kita suka pada orang-orang yang ?kelihatannya? baik, pintar, bijaksana dan berwibawa. Tak jarang kita mengidolakan mereka secara berlebih-lebihan. Namun, kadang-kadang rasa suka itu berbalik menjadi kekecewaan begitu kita tahu bahwa ?ternyata? ada sisi gelap yang dimiliki oleh orang yang kita kagumi itu. Walhasil, rasa hormat kita berubah menjadi kebencian. Atau setidak-tidaknya, kita tidak lagi bersedia mendengar suara-suara kebijaksanaan darinya. Padahal, kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun dia datang dari dalam lumpur. ?Kekurangan? atau sisi gelap seseorang mestinya tidak menjadikan nilai-nilai luhur lain yang disampaikannya kehilangan makna. Sebab, jika kita hanya bersedia mendengar ?orang-orang yang tidak memiliki kekurangan? maka kita tidak akan pernah menemukan orang semacam itu. Walhasil, kita tidak bisa saling belajar satu sama lain.
Selengkapnya...
 
Mungkin, Anda Lazy Thinker Juga
Ditulis Oleh Unknown   
Thursday, 30 July 2009

Berdasarkan materi oleh Robert Cialdini, penulis buku "Influence: The Psychology of Persuasion" dan Profesor Tom Hobbs dari Chapman University.

Apakah Anda termasuk lazy thinker tipe A?

Lazy thinker tipe A adalah orang yang malas berpikir, sehingga menerima begitu saja segala sesuatu. Atau malas berpikir, sehingga begitu saja memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya bertindak tanpa berpikir.

Apakah Anda termasuk lazy thinker tipe B?

Lazy thinker tipe B adalah orang yang terlalu banyak mikir, sehingga terlalu sulit untuk menerima sesuatu. Atau kebanyakan mikir, sehingga tak kunjung memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya terus berpikir, kecuali berpikir tentang perlunya bertindak.
Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 21 dari 173